HEMOPOIESIS
Hemopoiesis adalah proses pembuatan darah, di mana terdapat tiga kompartemen yang
berperan penting dalam hemopoesis, yaitu:
1. Kompartemen sel-sel darah baik sel-sel induk, sel-sel bakal dan sel-sel matur.
2. Kompartemen lingkungan mikro atau stroma/lingkungan mikrohemopoetik (LMH)
atau hemopoetic micro enviroment.
3. Kompartemen zat-zat pemicu/peransang (stimulator) hemopoesis atau faktor
pertumbuhan hemopoetik (FPH) atau hemopoetic growth factor di mana zat-zat dapat
menstimulasi sel-sel darah untuk berpoliferasi, berdiferensiasi7.
Hematopoiesis embrionik dan janin ditandai dengan perubahanperkembangan di dalam
tempat anatomis pembentukan darah, yang dibedakan atas tiga periode (Gambar 11),
yaitu:
1. Periode Mesoblatik
Sel darah dibuat dari jaringan mesenkim di mana mula-mula sel tersebut dibentuk
dibentuk dalam pulau-pulau darah (blood islands) dari kuning telur (yolk sac) yang
berkembang pada kehamilan 2 minggu. Dalam tahap selanjutnya sistem hemopoiesis
dibentuk dalam jaringan mesoblatik. Dari pulau-pulau darah tersebut dibentuk
dibentuk sel darah primitif yang pertama yang kemudian akan menjadi eritroblas
grabulosit dan megakariosit. Pada embrio sebesar 2,25 mm, pulau-pulau darah masih
ditemukan dan ketika embrio sebesar 5 mm sudah tidak ditemukan lagi. Pembuatan
darah intravaskulus dalam yolk sac dapat dilihat pada embrio sebesar 20 mm dan
menghilang pada embrio berumur 9 minggu (0-2 bulan).
2. Periode Hepatik
Pembuatan sistem hematopoetik periode ini terjadi pada emberio sebesar 5-7 mm. Sel
darah dibuat oleh jaringan mesenkim yang banyak ditemukan dalam jaringan hati.
Hal ini terjadi pada kehamilan 8 minggu dan dalam periode ini tampak sel eritrosit
yang definitif, juga sel leukosit dan megakariosit. Sel granulosit ini bertambah terus
sampai bular, keempat kehidupan embrio dan pada waktu ini jumlah granulosit sudah
banyak sekali. Dalam limpa dibentuk pula eritropoiesis dan leukopoiesis tetapi hanya
sampai bulan kelima kehidupan fetus. Limpa terutama membentuk sistem limfosit.
Timus terutama membentuk limfosit dan juga sedikit mielosit dan eritroblas.
Jadi sejak usia enam minggu sampai bulan ke 6-7 masa janin, hati dan limpa merupakan
tempat utama yang berperan dan terus memproduksi sel darah sampai sekitar 2 minggu setelah lahir.
3. Periode Mieloid
Ini merupakan periode terakhir pembentukan sistem hemopoiesis dan dimulai sejak
embrio berumur 5 bulan/trimester ketiga kehamilan. Mula-mula eritropoetik terutama
dibuat dalam hati sedangkan sel leukosit dalam sumsum tulang, tetapi dalam
perkembangan selanjutnya fungsi pembuatan sel darah ini diambil alih oleh sumsum
tulang dan hepar tidak berfungsi membuat sel darah lagi. Sel mesenkim yang
mempunyai kemampuan untuk membentuk sel darah menjadi kurang, tetapi tetap ada
dalam sumsum tulang, hati, limpa, kelenjar hati bening dan dinding usus. Secara
umum sel in dikenal sebagai sistem retikuloendotelial. Sel-sel yang sedang
berkembang terletak di luar sinus sumsum tulang, dan sel yang matang dilepaskan ke
dalam rongga sinus, mikrosirkulasi sumsum tulang, dan selanjutnya ke dalam
sirkulasi umum Pada neonatus dan selama masa bayi awal, sumsum tulang hematopoietik mengisi rongga
seluruh tulang kerangka aksila, tulang panjang dan banyak tulang pipih. Oleh karena itu,
selama tahun pertama, tibia sering dipilih sebagai tempat yang tepat untuk aspirasi
sumsum tulang. Pada masa bayi seluruh sumsum tulang bersifat hemopoietik tetapi
selama masa kanak-kanak (setelah usia 4 tahun) terjadi pergantian sumsum tulang oleh
lemak yang sifatnya progresif di sepanjang tulang panjang sehingga pada masa dewasa,
sumsum tulang hemopoietik terbatas pada tulang vertebra, sternum, pelvis, sakrum,
tulang iga, tulang tengkorak, ujung proksimal femur dan humerus Oleh karena itu, krista iliaka atau spina iliaka posterior superior lazim digunakan untuk aspirasi sumsum tulang pada anak sesudah masa bayi.
Pada penyakit yang ditandai dengan hemolisis, kecepatan normal produksi eritrosit dapat
ditingkatkan delapan kali lipat, yang juga menyebabkan peningkatan volume jaringan
hematopoietik. Produksi darah mula-mula meluas dari ujung tulang panjang ke arah
pertengahan badan tulang mengantikan lemak sumsum tulang. Selanjutnya produksi sel
darah meluas ke tempat ekstramedular, terutama ke hati dan limpa. Pada bayi dan anak,
penyakit hemolitik mengakibatkan pembesaran hati dan limpa yang relatif lebih besar
daripada orang dewasa karena kebanyakn tulang telah terisi dengan sumsum tulang, dan
hati dan limpa dapat kembali berperan hemopoetik seperti pada masa janin. Pada
penyakit hemolitik kronis, perluasan volume sumsum tulang merah dalam tulang
mengakibatkan hilangnya trabekula dan perpindahan ke luar serta penipisan korteks,
yang dapat dideteksi secara radiografi.
DARAH
Darah adalah cairan yang beredar melalui jantung, arteri, kapiler, dan vena membawa zat
makanan dan oksigen ke sel-sel tubuh, yang secara fisik lebih kental dan mengalir lebih
lambat daripada air, dengan pH 7,4 (7,35-7,45), temperatur sekitar 100,40F (380C). Darah
membentuk sekitar 6-8% dari berat tubuh total dan memiliki volume rata-rata 5 liter pada
wanita dan 5,5 liter pada pria. Darah terdiri dari tiga jenis unsur sel yaitu eritrosit,
leukosit, dan trombosit yang terendam dalam cairan kompleks plasma (Gambar 1).
Fungsi darah adalah mentranspor berbagai zat (O2, CO2, zat makanan, produk
metabolisme, vitamin, mineral, elektrolit, panas, dll), regulasi suhu tubuh (pemanasan,
pendinginan), menjalarkan sinyal (hormon), sebagai sistem dapar, mencegah kehilangan
darah serta pertahanan tubuh melawan zat asing dan mikroorganisme. Secara konstituen
masing-masing unsur darah berfungsi sebagai berikut:
1. Plasma, terdiri atas:
1. Air berfungsi sebagai medium transportasi dan mengangkut panas.
2. Elektrolit berfungsi sebagai ekstabilitas membran, distribusi osmotik cairan antara
cairan intarsel dan ekstrasel, serta menyangga perubahan pH.
3. Nutrien, zat sisa, gas, hormon fungsinya diangkut dalam darah dan gas CO2 darah
berperan penting dalam keseimbangan asam-basa.
4. Protein plasma yang secara umum menimbulkan efek osmotik yang penting
dalam distribusi cairan ekstrasel antara kompartemen vaskuler dan interstisium
dan menyangga pH. Protein plasma sendiri terdiri atas albumin, globulin (alfa,
beta dan gama), fibronogen.
2. Unsur sel, terdiri atas:
1. Eristrosit yang berfungsi mengangkut O2 dan CO2 (terutama O2).
2. Leukosit, yang terdiri atas:
1. Nuetrofil berfungsi sebagai fagosit yang memakan bakteri dan debris.
2. Eosinofil berfungsi menyerang cacing parasit, dan penting dalam reaksi alergi.
3. Basofil berfungsi mengeluarkan histamin, yang penting dalam reaksi alergi,
dan heparin yang membantu membersihkan lemak dari darah dan mungkin
berfungsi sebagai antrikoagulan.
4. Monosit berfungsi dalam transit untuk menjadi makrofag jaringan.
5. Limfosit B berfungsi dalam pembentukan antibodi.
6. Limfosit T berfungsi sebagai respons imun seluler.
Plasma
Plasma berupa cairan yang 90% adalah air yang berfungsi sebagai medium untuk
mengangkut berbagai bahan dalam darah. Selain itu, plasma mampu menyerap dan
mendistribusikan banyak panas yang dihasilkan oleh metabolisme di dalam jaringan
sementara suhu darah itu sendiri hanya mengalami sedikit perubahan. Energi panas yang
tidak diperlukan untuk mempertahankan suhu tubuh dikeluarkan ke lingkungan ketika
darah mengalir ke permukaan kulit.
Pada plasma juga terdapat sejumlah besar zat organik dan anorganik. Konstituen organik
yang paling banyak adalah protein plasma, yang membentuk 6%-8% dari berat total
plasma. Sedangkan konstituen anorganik yang membentuk sekitar 1% dari berat plasma.
Elektrolit yang paling banyak adalah Na+ dan Cl-, sedangkan jumlah HCO3
-, K+, Ca2+ dan
ion lain lebih sedikit. Fungsi paling menonjol dari ion-ion cairan ekstrasel adalah dalam
eksitabilitas (CES) membran, distribusi osmotik cairan antara CES dan sel, dan
menyangga perubahan pH. Sedangkan sisa komposisi plasma adalah nutrien (misal,
glukosa, asam amino, lemak dan vitamin), produk sisa (kreatinin, bilirubin, urea), gas-gas
larut (O2 dan CO2), dan hormon.
Protein plasma adalah sekolompok konstituen plasma yang tidak keluar dari pori-pori di
dinding kapiler karena berukuran besar dan berbentuk dispersi koloid. Terdapat tiga
kelompok protein plasma, yaitu albumin, globulin, dan fibrinogen. Dan secara umum
protein darah dapat berfungsi dalam menyangga perubahan pH darah, dapat menentukan
viskositasi darah, dalam keadaan kelaparan dapat diuraikan menjadi energi bagi sel, serta
dapat mempertahankan volume plasma (menjadi tekanan koloid osmotik). Protein-protein
plasma biasanya disintesis oleh hati, kecuali globulin gama yang dihasilkan oleh limsofit.
Albumin adalah protein plasma yang paling banyak, yang dapat mengikat banyak zat
(bilirubin, garam empedu, dan penisilin) untuk ditransportasi melalui plasma dan sangat
berperan dalam menentukan tekanan koloid osmotik. Globulin terdiri atas tiga jenis, yaitu
globulin alfa, beta dan gama. Globulin alfa dan beta spesifik dapat mengikat dan
mengangkut sejumlah zat dalam plasma (seperti hormon tiroid, kolesterol, dan besi),
selain itu kedua jenis globulin banyak berperan dalam proses pembekuan darah. Globulin
gama sendiri merupakan imunoglobulin (antibodi) yang penting dalam keseimbangan garam di tubuh. Fibrinogen adalah faktor kuncu dalam proses pembekuan.
Eritrosit
Setiap mililiter darah mengandung sekitar 5 miliar eritrosit yang secara klinis dilaporkan
dalam hitungan sel darah merah sebagai 5 juta per mililiter kubik (mm3). Eritrosit adalah
sel gepeng berbentuk piringan yang di bagian tengah di kedua sisinya mencekung atau
berbentuk lempengan bikonkaf dengan diameter 7,8-8 μm, tepi luar tebalnya sekitar 2-2,5μm,
dan bagian tengaj tebalnya 1 μm atau kurang Pada pria normal,
jumlah rata-rata sel darah merah permilimeter 5.200.000 (+300.000)
dan pada wanita normal 4.700.000 (+300.000),
dan ketinggian akan mempengaruhi jumlah sel darah merah pada setiap individu.
Bentuk khas bikonkaf menghasilkan luas
permukaan yang lebih besar bagi difusi O2 menembus membran daripada yang dihasilkan
oleh sel bulat dengan volume yang sama. Sedangkan tipisnya sel memungkinkan O2
berdifusi secara lebih cepat antara bagian paling dalam sel dengan eksteriornya dan
bentuk sel darah merah dapat berubah (fleksibilitas membran) ketika sel berjalan
melewati kapiler. Sel darah normal dengan diameter 8 μm dan mampu mengalami
deformasi pada saat mereka menyelinap satu persatu melalui kapiler yang bahkan
berdiameter 3 μm. Eritrosit yang baru saja masuk ke dalam darah akan mempertahankan
sisa organel yang berbentuk seperti sarang (retrikulosit) selama 1-2 hari dam masa hidup
normalnya sekitar 110-120 hari dengan retrikulosit biasanya mencapai 1-2%.
Eritrosit mengandung hemoglobin (Hb) yang berfungsi mengikat O2, di mana eritrosit
dapat mengkonsentrasikan Hb dalam cairan sel sampai 30-36 gm/dl sel darah merah.
Molekul Hb terdiri dari bagian globin yang merupakan suatu protein yang terbentuk dari
empat polipeptida yang sangat berlipat-lipat dan bagian gugus nitrogenosa nonprotein
yang mengandung besi yang dikenal dengan gugus hem (heme)
Selain mengangkut O2, Hb juga dapat mengikat:
1. Karbon dioksida, sehingga Hb juga berperan mengangkut gas ini dari jaringan
kembali ke paru.
2. Bagian ion hidrogen asam (H+) dari asam karbonat yang terionisasi, yang dibentuk
dari CO2 pada tingkat jaringan, sehingga Hb berperan dalam menyangga asam ini,
sehingga pH tidak terlalu terpengaruh.
3. Karbon monoksida (CO), afinitas Hb terhadap CO lebih tinggi daripada O2.
Selain mengangkut Hb, eritrosit juga mengandung banyak karbonik anhidrase yang
mengkatalisis reaksi antar CO2 dan H2O, sehingga meningkatkan kecepatan reaksi bolakbalik
beberapa ribu kali lipat, yang membuat air dalam darah dapat bereaksi dengan
banyak sekali CO2, dengan demikian mengangkutnya dari jaringan menuju paru-paru
dalam bentuk ion bikarbonat (HCO3
-). Hb yang terdapat dalam sel juga merupakan dapar
asam basa sehingga eritrosit bertanggung jawab untuk sebagian daya perndaparan seluruh
darah. Bila hematokrit dan jumlah Hb dalam masing-masing sel nilainya normal, maka
seluruh darah seorang pria rata-rata mengandung 16 g Hb per desiliter dan pada wanita
rata-rata 14 g/dl, di mana setiap gram Hb murni mampu berikatan dengan sekitar 1,39 ml
O2, sehingga pada setiap pria normal dapat dibawa lebih dari 21 ml O2 dalam bentuk
gabungan Hb pada setiap desiliter darah dan pada wanita normal O2 yang dapat diangkut
sebesar 19 ml
Leukosit
Leukosit adalah unit-unit yang dapat bergerak (mobile) dalam sistem pertahanan tubuh.
Leukosit dan turunannya dapat menahan invasi oleh patogen melalui proses fagositosit,
dapat mengidentifikasi dan menghancurkan sel-sel kanker yang muncul di dalam tubuh,
dan berfungsi membersihkan sampah tubuh dengan memfagosit debris yang berasal dari
sel yang mati atau cidera.
Leukosit tidak memiliki Hb, sehingga tidak berwarna kecuali jika diwarnai secara khusus
agar dapat dilihat di mikroskop. Terdapat lima jenis leukosit yang bersirkulasi, yaitu
neutrofil (neutrofil segmen dan batang) (Gambar 5), eosinofil (Gambar 6), basofil
(Gambar 7), monosit (Gambar 8), dan limfosit (Gambar 9) yang masing-masing dengan
struktur dan fungsi yang khas dan semuanya berukuran sedikit lebih besar daripada
eritrosit.
Kelima jenis leukosit terbagi ke dalam dua kategori utama, bergantung pada gambaran
nukleus dan ada tidaknya granula di sitoplasma. Neutrofil, eosinofil dan basofil
dikategorikan sebagai granulosit (sel yang berbentuk granula) polimorfonukleus (banyak
bentuk nukleus). Terdapat tiga jenis granulosit berdasarkan afinitas mereka terhadap zat
warna, seperti eosinofil memiliki afinitas terhadap zat warna merah eosin, basofil
cenderung menyerap zat warna biru basa, dan neutrofil bersifat netral yang tidak
memperlihatkan kecenderungan zat warna. Monosit dan limfosit dikenal sebagai
agranulosit (sel tanpa granula) mononukleus (satu nukleus). Keduanya memiliki sebuah
nukleus besar tidak bersegmen dan sedikit granula. Monosit lebih besar daripada limsofit
dan memiliki nukleus berbentuk oval atau seperti ginjal, sedangkan limfosit merupaan
leukosit terkecil yang ditandai oleh nukleus bulat dan besar yang menempati sebagian
besar sel1,3.
Pada manusia dewasa dapat dijumpai 7.000.000 sel/ml darah (hitungan sel darah 7.000
mm3), dengan perincian:
1. Neutrofil sebesar 60-70% (62%) atau sekitar 5.400 sel/cc dengan kisaran normal
3.000-6.000 (2,5-7,5x109/l), di mana neutrofil batang sekitar 0-4% dari leukosit
dengan fungsi sebagai prekusor dari sel segmen yang memberikan respons imun
antibakteri, sedangkan neutrofil segmen sekitar 50-70% dari leukosit dengan fungsi
menfagosit bakteri.
2. Eosinofil sebesar 1-4% (2,3%) atau sekitar 275 sel/cc dengan kisaran normal 150-300
(0,04-0,4x109/l) yang berfungsi melawan parasit internal (cacing) dan reaksi alergi.
3. Basofil sebesar 0,25-0,5% (0,4%) atau sekitar 35 sel/cc dengan kisaran normal 0-100
(0,01-0,1x109/l) yang berfungsi dalam regulasi terhadap respon inflamasi lokal.
4. Monosit sebesar 2-6% (5,3%) atau sekitar 540 sel/cc dengan kisaran normal 300-600
(0,2-0,8x109/l) yang berfungsi menfagosit bakteri, protozoa, fungi, dan benda asing
lainnya.
5. Limfosit sebesar 25-33% (30%) atau sekitar 2.750 sel/cc dengan kisaran normal
1.500-4.000 (1,5-3,5x109/l) di mana limfosit B (20% dari jumlah limfosit) berfungsi
menghasilkan antobodi yang beredar dalam darah dam limfosit T (70% dari jumlah
limfosit) berfungsi menghancurkan sel-sel sasaran spesifik1,3,4,5,6.
Trombosit
Trombosit bukanlah suatu sel utuh tetapi fragmen/potongan kecil sel (berdiameter 2-4
μm) yang terlepas dari tepi luar suatu sel besar (berdiameter 60 μm) di sumsum tulang
yang dikenal sebagai megakariosit (Gambar 10). Dalam setiap ml darah pada keadaan
normal terdapat sekitar 250.000 trombosit (+ 150.000-350.000/mm3). Trombosit
mempunyai waktu paruh sekitar 8-12 hari dan setelah itu proses kehidupannya berakhir.
Trombosit itu kemudian diambil dari sirkulasi, terutama oleh sistem makrofag jaringan,
lebih dari separuh trombosit diambil oleh makrofag dalam limpa, yaitu pada waktu darah
melewati kisi-kisi trabekula yang rapat. Dan secara umum trombosit berfungsi sebagai hemostatis (penghentian perdarahan dari suatu pembuluh darah yang rusak).
Hemoglobinopati adalah penyakit yang disebabkan oleh kelainan rantai globin baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Kelainan kuantitatif rantai globin dikenal sebagai penyakit thalassemia, sedangkan kelainan kualitatif digolongkan ke dalam penyakit hemoglobin varian. Untuk menegakkan diagnosis hemoglobinopati diperlukan data laboratorium seperti pemeriksaan darah lengkap (complete blood count I CBC), evaluasi sediaan hapus darah tepi, elektroforesis hemoglobin, kadar HbA2, HbF, HbH inclusion bodies, kadar feritin, sitokimia HbF, beberapa uji konfirmasi hemoglobin varian seperti HbE, HbS dan uji stabilitas hemoglobin serta uji saring fragilitas osmotik eritrosit. Pada kesempatan ini akan disampaikan mengenai pemeriksaan laboratorium hematologi dan analisis hemoglobin
. Pengertian Bilirubin
Bilirubin adalah pigmen kristal berwarna jingga ikterus yang merupakan bentuk akhir dari pemecahan katabolisme heme melalui proses reaksi oksidasi – reduksi. Bilirubin merupakan zat yang terbentuk sebagai akibat dari proses pemecahan Hemoglobin (zat merah darah) pada system RES dalam tubuh yang selanjutnya mengalami proses konjugasi di liver, dan akhirnya diekskresi (dikeluarkan) oleh liver ke empedu, kemudian ke usus.
2.2.2. Jenis Bilirubin
Menurut Klous dan Fanaraft (1998) bilirubin dibedakan menjadi dua jenis yaitu:.
1. Bilirubin indirek :
§ Bilirubin tidak terkonjugasi (belum dikonjugasi) atau bilirubin bebas
§ Bilirubin larut dalam lemak (tidak larut dalam air), berikatan dengan albumin untuk transport dan komponen bebas larut dalam lemak serta bersifat toksik untuk otak karena bisa melewati sawar darah otak.
Bilirubin adalah pigmen kristal berwarna jingga ikterus yang merupakan bentuk akhir dari pemecahan katabolisme heme melalui proses reaksi oksidasi – reduksi. Bilirubin merupakan zat yang terbentuk sebagai akibat dari proses pemecahan Hemoglobin (zat merah darah) pada system RES dalam tubuh yang selanjutnya mengalami proses konjugasi di liver, dan akhirnya diekskresi (dikeluarkan) oleh liver ke empedu, kemudian ke usus.
2.2.2. Jenis Bilirubin
Menurut Klous dan Fanaraft (1998) bilirubin dibedakan menjadi dua jenis yaitu:.
1. Bilirubin indirek :
§ Bilirubin tidak terkonjugasi (belum dikonjugasi) atau bilirubin bebas
§ Bilirubin larut dalam lemak (tidak larut dalam air), berikatan dengan albumin untuk transport dan komponen bebas larut dalam lemak serta bersifat toksik untuk otak karena bisa melewati sawar darah otak.
2. Bilirubin direk :
§ Bilirubin terkonjugasi atau bilirubin terikat
§ Bilirubin larut dalam air dan tidak toksik untuk otak.
§ Ekskresi melalui usus, bila terdapat obstruksi, ekskresi melalui ginjal
2.2.3. Metabolisme Bilirubin
Segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin (merubah
Bilirubin yang larut dalam lemak menjadi Bilirubin yang mudah larut dalam
air) di dalam hati. Frekuensi dan jumlah konjugasi tergantung dari besarnya
hemolisis dan kematangan hati, serta jumlah tempat ikatan Albumin (Albumin
binding site). Pada bayi yang normal dan sehat serta cukup bulan, hatinya sudah
matang dan menghasilkan Enzim Glukoronil Transferase yang memadai
sehingga serum Bilirubin tidak mencapai tingkat patologis.
§ Produksi : Sumbernya adalah produk degradasi hemoglobin (terutama) sebagaian dari sumber lain.
§ Transportasi : Bilirubin indirek diangkut ke hepar dalam ikatan dengan albumin.
§ Konjugasi : di hear bílirubin dikonjugasi menjadi bilirubin direk dengan pengaruh enzim glukuronil transferase.
§ Ekskresi : Bilirubin diekskresi ke usus melalui duktus koledokus.
2.2.4. Pembentukan Bilirubin
Langkah oksidasi yang pertama adalah biliverdin yang di bentuk dari heme dengan bantuan enzim heme oksigenase yaitu suatu enzim yang sebagian besar terdapat dalam sel hati, dan organ lain. Pada reaksi tersebut juga terdapat besi yang digunakan kembali untuk pembentukan haemoglobin dan karbon monoksida yang dieksresikan ke dalam paru. Biliverdin kemudian akan direduksi menjadi bilirubin oleh enzim biliverdin reduktase. Biliverdin bersifat larut dalam air dan secara cepat akan dirubah menjadi bilirubin melalui reaksi bilirubin reduktase. Berbeda dengan biliverdin, bilirubin bersifat lipofilik dan terikat dengan hydrogen serta pada pH normal bersifat tidak larut. Jika tubuh akan mengeksresikan, diperlukan mekanisme transport dan eliminasi bilirubin.
2.2.5. Transportasi Bilirubin
Pembentukan bilirubin yang terjadi di system retikulo endothelial, selanjutnya dilapaskan ke sirkulasi yang akan berikatan dengan albumin. Bayi baru lahir mempunyai kapasitas ikatan plasma yang rendah terhadap bilirubin karena konsentrasi albumin yang rendah dan kapasitas ikatan molar yang kurang.Bilirubin yang terikat pada albumin serum ini merupakan zat non polar dan tidak larut dalam air dan kemudian akan di transportasi kedalam sel hepar. Bilirubin yang terikat dengan albumin tidak dapat memasuki susuna syaraf pusat dan bersifat nontoksik. Selain itu albumin juga mempunyai afinitas yang tinggi terhadap obat – obatan yang bersifat asam seperti penicillin dan sulfonamide. Obat – obat tersebut akan menempati tempat utama perlekatan albumin untuk bilirubin sehingga bersifat competitor serta dapat pula melepaskan ikatan bilirubin dengan albumin.
Obat – obat yang dapat melepaskan ikatan bilirubin dengan albumin:
ë Analgetik, antipiretik ( Natrium salisilat, fenilbutazon )
ë Antiseptik, desinfektan ( metal, isopropyl )
ë Antibiotik dengan kandungan sulfa (Sulfadiazin, sulfamethizole, sulfamoxazole)
ë Penicilin ( propicilin, cloxacillin )
ë Lain – lain ( novabiosin, triptophan, asam mendelik, kontras x – ray )
Bilirubin dalam serum terdapat dalam 4 bentuk yang berbeda, yaitu:
ë Bilirubin tak terkonjugasi yang terikat dengan albumin dan membentuk sebagian
besar bilirubin tak terkonjugasi dalam serum.
ë Bilirubin bebas
ë Bilirubin terkonjugasi yaitu bilirubin yang siap dieksresikan melalui ginjal.
ë Bilirubin terkonjugasi yang terikat denga albumin serum.
2.2.6. Asupan Bilirubin
Pada saat kompleks bilirubin – albumin mencapai membrane plasma hepatosit, albumin terikat ke reseptor permukaan sel. Kemudian bilirubin, di transfer melalui sel membran yang berikatan dengan ligandin ( protein y ), mungkin juga dengan protein ikatan sitosilik lainnya.
2.2.7. Konjugasi Bilirubin
Bilirubin tak terkonjugasi dikonversikan kebentuk bilirubin konjugasi yang larut dalam air di reticulum endoplasma dengan bantuan enzim uridine diphospate glukuronosyl transferase ( UDPG – T ). Katalisa oleh enzim ini akan merubah formasi menjadi bilirubin monoglukoronida yang selanjutnya akan dikonjugasi menjadi bilirubin diglukoronida. Bilirubin ini kemudian dieksresikan kedalam kalanikulus empedu. Sedangkan satu molekul bilirubin tak terkonjugasi akan kembali ke reticulum endoplasmic untuk rekonjugasi berikutnya.
2.2.8. Eksresi Bilirubin
Setelah mengalami proses konjugasi , bilirubin akan dieksresikan kedalam kandung empedu, kemudian memasuki saluran cerna dan di eksresikan melalui feses. Setelah berada dalam usus halus bilirubin yang terkonjugasi tidak langsung dapat diresorbsi, kecuali jika dikonversikan kembali menjadi bentuk tidak terkonjugasi oleh enzim beta – glukoronidase yang terdapat dalam usus. Reasorbsi kembali bilirubin dari saluran cerna dan kembali ke hati untuk di konjugasi kembali disebut sirkulasi enterohepatik.
§ Bilirubin terkonjugasi atau bilirubin terikat
§ Bilirubin larut dalam air dan tidak toksik untuk otak.
§ Ekskresi melalui usus, bila terdapat obstruksi, ekskresi melalui ginjal
2.2.3. Metabolisme Bilirubin
Segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin (merubah
Bilirubin yang larut dalam lemak menjadi Bilirubin yang mudah larut dalam
air) di dalam hati. Frekuensi dan jumlah konjugasi tergantung dari besarnya
hemolisis dan kematangan hati, serta jumlah tempat ikatan Albumin (Albumin
binding site). Pada bayi yang normal dan sehat serta cukup bulan, hatinya sudah
matang dan menghasilkan Enzim Glukoronil Transferase yang memadai
sehingga serum Bilirubin tidak mencapai tingkat patologis.
§ Produksi : Sumbernya adalah produk degradasi hemoglobin (terutama) sebagaian dari sumber lain.
§ Transportasi : Bilirubin indirek diangkut ke hepar dalam ikatan dengan albumin.
§ Konjugasi : di hear bílirubin dikonjugasi menjadi bilirubin direk dengan pengaruh enzim glukuronil transferase.
§ Ekskresi : Bilirubin diekskresi ke usus melalui duktus koledokus.
2.2.4. Pembentukan Bilirubin
Langkah oksidasi yang pertama adalah biliverdin yang di bentuk dari heme dengan bantuan enzim heme oksigenase yaitu suatu enzim yang sebagian besar terdapat dalam sel hati, dan organ lain. Pada reaksi tersebut juga terdapat besi yang digunakan kembali untuk pembentukan haemoglobin dan karbon monoksida yang dieksresikan ke dalam paru. Biliverdin kemudian akan direduksi menjadi bilirubin oleh enzim biliverdin reduktase. Biliverdin bersifat larut dalam air dan secara cepat akan dirubah menjadi bilirubin melalui reaksi bilirubin reduktase. Berbeda dengan biliverdin, bilirubin bersifat lipofilik dan terikat dengan hydrogen serta pada pH normal bersifat tidak larut. Jika tubuh akan mengeksresikan, diperlukan mekanisme transport dan eliminasi bilirubin.
2.2.5. Transportasi Bilirubin
Pembentukan bilirubin yang terjadi di system retikulo endothelial, selanjutnya dilapaskan ke sirkulasi yang akan berikatan dengan albumin. Bayi baru lahir mempunyai kapasitas ikatan plasma yang rendah terhadap bilirubin karena konsentrasi albumin yang rendah dan kapasitas ikatan molar yang kurang.Bilirubin yang terikat pada albumin serum ini merupakan zat non polar dan tidak larut dalam air dan kemudian akan di transportasi kedalam sel hepar. Bilirubin yang terikat dengan albumin tidak dapat memasuki susuna syaraf pusat dan bersifat nontoksik. Selain itu albumin juga mempunyai afinitas yang tinggi terhadap obat – obatan yang bersifat asam seperti penicillin dan sulfonamide. Obat – obat tersebut akan menempati tempat utama perlekatan albumin untuk bilirubin sehingga bersifat competitor serta dapat pula melepaskan ikatan bilirubin dengan albumin.
Obat – obat yang dapat melepaskan ikatan bilirubin dengan albumin:
ë Analgetik, antipiretik ( Natrium salisilat, fenilbutazon )
ë Antiseptik, desinfektan ( metal, isopropyl )
ë Antibiotik dengan kandungan sulfa (Sulfadiazin, sulfamethizole, sulfamoxazole)
ë Penicilin ( propicilin, cloxacillin )
ë Lain – lain ( novabiosin, triptophan, asam mendelik, kontras x – ray )
Bilirubin dalam serum terdapat dalam 4 bentuk yang berbeda, yaitu:
ë Bilirubin tak terkonjugasi yang terikat dengan albumin dan membentuk sebagian
besar bilirubin tak terkonjugasi dalam serum.
ë Bilirubin bebas
ë Bilirubin terkonjugasi yaitu bilirubin yang siap dieksresikan melalui ginjal.
ë Bilirubin terkonjugasi yang terikat denga albumin serum.
2.2.6. Asupan Bilirubin
Pada saat kompleks bilirubin – albumin mencapai membrane plasma hepatosit, albumin terikat ke reseptor permukaan sel. Kemudian bilirubin, di transfer melalui sel membran yang berikatan dengan ligandin ( protein y ), mungkin juga dengan protein ikatan sitosilik lainnya.
2.2.7. Konjugasi Bilirubin
Bilirubin tak terkonjugasi dikonversikan kebentuk bilirubin konjugasi yang larut dalam air di reticulum endoplasma dengan bantuan enzim uridine diphospate glukuronosyl transferase ( UDPG – T ). Katalisa oleh enzim ini akan merubah formasi menjadi bilirubin monoglukoronida yang selanjutnya akan dikonjugasi menjadi bilirubin diglukoronida. Bilirubin ini kemudian dieksresikan kedalam kalanikulus empedu. Sedangkan satu molekul bilirubin tak terkonjugasi akan kembali ke reticulum endoplasmic untuk rekonjugasi berikutnya.
2.2.8. Eksresi Bilirubin
Setelah mengalami proses konjugasi , bilirubin akan dieksresikan kedalam kandung empedu, kemudian memasuki saluran cerna dan di eksresikan melalui feses. Setelah berada dalam usus halus bilirubin yang terkonjugasi tidak langsung dapat diresorbsi, kecuali jika dikonversikan kembali menjadi bentuk tidak terkonjugasi oleh enzim beta – glukoronidase yang terdapat dalam usus. Reasorbsi kembali bilirubin dari saluran cerna dan kembali ke hati untuk di konjugasi kembali disebut sirkulasi enterohepatik.




